10 Faktor Resiko Terjadinya Kelahiran Pematur

10 Faktor Resiko Terjadinya Kelahiran Pematur

  • Usia saat hamil. Wanita berusia di bawah 16 tahun dan mereka yang berusia lebih dari 35 tahun saat hamil memiliki peningkatan peluang 2-4 persen dari kelahiran bayi prematur, dibandingkan mereka yang berada di rentang usia 21-24 tahun saat hamil. Beberapa studi telah meneliti hubungan antara usia ibu dan kelahiran prematur, dengan kelahiran prematur -— dan yang berada dalam posisi sungsang — terjadi pada 8% ibu yang berusia lebih dari 35 tahun dibandingkan dengan kurang dari 4% kelahiran di kalangan ibu berusia lebih muda dari 35 tahun. Ibu hamil yang berusia lebih tua pun lebih mungkin untuk mengalami perdarahan sebelum hamil. Hal ini sebagian besar dikarenakan oleh cara plasenta tertanam lebih rendah di dalam rahim Temuan-temuan ini telah dikaitkan dengan faktor hormonal yang berhubungan dengan bertambahnya usia ibu. Namun, belum ada cukup bukti kuat untuk menentukan apakah pertambahan usia iu adalah faktor mandiri dan langsung dari kelahiran bayi prematur. Perempuan yang hamil di bawah umur (kehamilan remaja) juga membawa peningkatan risiko hasil kehamilan buruk, termasuk risiko menjalani persalinan dini dibandingkan dengan kelompok ibu berusia 20-39 tahun. Remaja juga lebih mungkin untuk memiliki peningkatan risiko kelahiran bayi prematur ekstrem yang lebih tinggi.
  • Jarak antar kehamilan. Periode antar dua kehamilan yang berjarak hanya enam sampai sembilan bulan antara kelahiran satu bayi dengan awal kehamilan berikutnya diketahui meningkatkan risiko kelahiran bayi prematur. Bahkan, lebih dari setengah dari perempuan melaporkan kehamilan setelah 12 bulan melahirkan bayi pertama mereka, melahirkan bayi berikutnya sebelum 39 minggu, menurut temuan sebuah studi di BJOG: An International Journal of Obstetrics and Gynaecology.. Para ahli mengatakan waktu optimal antara kehamilan adalah 18 bulan tapi tidak jelas alasan di baliknya, dan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan. “Tapi angka bercerita bahwa untuk setiap bulan lebih mendekati 18 bulan di antara dua kehamilan, ada kemungkinan lebih tinggi bahwa Anda akan memiliki kehamilan yang sehat,” kata Dr Scott D. Berns, presiden dan CEO dari National Institute for Children’s Health Quality (NICHQ) di Boston, Massachusetts.
  • Riwayat kelahiran prematur. Risiko kelahiran bayi prematur meningkat pada wanita yang memiliki riwayat melahirkan prematur sebelumnya. Bahkan, studi menunjukkan wanita yang melahirkan prematur berada pada tingkat peluang 30-50 persen lebih tinggi untuk mengalami kelahiran bayi prematur di kehamilan berikutnya. Riwayat melahirkan prematur merupakan faktor risiko terkuat untuk kelahiran prematur berulang dan kekambuhan sering terjadi pada usia yang sama, dengan sekitar 70 persen persalinan dini terjadi dalam waktu dua minggu usia kehamilan dari kelahiran prematur pertama. Kelahiran bayi prematur iatrogenik (disebabkan oleh perawatan dokter terhadap suatu penyakit atau suatu kondisi pasien) menyumbang lebih dari 30 persen dari seluruh kejadian kelahiran prematur. Tingkat kelahiran bayi prematur terus meningkat di banyak negara di seluruh dunia karena peningkatan tingkat kelahiran prematur yang ditunjukkan.
  • Kehamilan kembar. Diperkirakan 50 persen dari kehamilan kembar dua berakhir dalam kelahiran prematur dan hampir semua kejadian kembar kelipatan yang lebih tinggi (90 persen) dilahirkan prematur. Sebanyak 36 persen dari kembar tiga dilahirkan sebelum 32 minggu kehamilan, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ifeoma Offiah dan tim peneliti dari Rumah Sakit Bersalin Universitas Cork, Irlandia. Kelahiran prematur adalah komplikasi yang paling umum untuk wanita hamil dengan kembar dua atau kelipatan selanjutnya, yang diikuti oleh berat badan lahir rendah, morbiditas neonatal dan perinatal, neonatal, dan kematian bayi.. Kehamilan kembar dua dan seterusnya hanya menempati 2-3 persen dari seluruh kehamilan, tapi mencakup lebih dari 17 persen kelahiran prematur terlambat, dan 23% kelahiran prematur ekstrem. Rata-rata usia kelahiran dari kebanyakan kehamilan ganda terjadi di peridoe kelahiran prematur lambat (34-36 minggu usia kehamilan) akibat terjadinya awal persalinan spontan dan kelahiran prematur iatrogenik.
  • Infeksi ibu. Infeksi dan peradangan terkait adalah inisiator penting dari jalur kelahiran prematur. Infeksi yang mempengaruhi vagina, ginjal, kandung kemih, dan saluran kencing dapat meningkatkan risiko Anda melahirkan bayi prematur. Begitu pula dengan infeksi umum yang disertai dengan demam tinggi (lebih dari 38ºC) pada ibu hamil. Infeksi seperti bacterial vaginosis atau yang disebabkan oleh bakteri tertentu, seperti Mycoplasme dan Ureaplasma dapat meningkatkan risiko Anda. Penelitian menunjukkan bahwa infeksi intrauterin (infeksi dalam rahim) mungkin bertanggung jawab untuk kurang lebih 40 persen kelahiran prematur, dan juga merupakan faktor risiko untuk bayi lahir mati. Hal ini ditunjukkan oleh penemuan berulang kultur bakteri positif dari plasenta atau selaput dari tingginya proporsi pasien yang mengalami kelahiran prematur. Selain itu, Streptokokus grup B (strep grup B) juga merupakan faktor risiko kelahiran prematur, walaupun tergolong lebih jarang — sehingga bahkan jika Anda terbukti positif, tidak berarti Anda pasti akan mengalami kelahiran prematur. 25 persen kasus bayi lahir prematur terjadi pada ibu yang memiliki kolonisasi bakteri rahim. Ada beberapa indikasi bahwa hal ini lebih disebabkan oleh jumlah relatif bakteri, atau spesies tertentu dari bakteri, bukan semata hanya kehadirannya, yang mempengaruhi kelahiran prematur.
  • Kondisi kronis yang diidap ibu. Ibu hamil yang memiliki diabetes, hipertensi, anemia, asma, peradangan usus besar (IBS), penyakit ginjal, lupus, gangguan tiroid, pre-eklamsia, atau sindrom antifosfolipid/APS (gangguan autoimun di mana antibodi tubuh justru balik menyerang dan merusak jaringan atau sel tubuh sehat) misalnya, memiliki peningkatan risiko terhadap kelahiran bayi prematur. Penyakit seks menular juga diketahui sebagai faktor yang memainkan peran besar dalam menentukan keselamatan kehamilan Anda. Ibu hamil yang mengidap klamidia thrachomatis lebih mungkin untuk memiliki leher rahim pendek daripada grup kontrol (33 persen berbanding 17,9 persen). Infeksi C. trachomatis yang terjadi pada minggu ke-24 kehamilan membawa peningkatan risiko kelahiran prematur cenderung 2-3 kali lipat lebih tinggi daripada mereka yang terinfeksi dengan penyakit yang sama di usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan kurang dari 35 minggu.
  • Abnormalitas leher rahim. Inkompentensi serviks adalah dilatasi dan pengangkatan leher rahim sebelum waktu persalinan, yang berkontribusi pada hilangnya kehamilan sehat. Hal ini termasuk jarang, hanya mencakup 1-2 persen dari total kasus kehamilan di AS, tetapi bertanggung jawab untuk 25 persen dari total kasus keguguran di pertengahan trimester ketiga. Faktor risiko inkompetensi serviks termasuk riwayat operasi leher rahim, dan sejarah keguguran atau aborsi di trimester kedua. Risiko kelahiran bayi prematur meningkat secara signifikan pada wanita yang memiliki leher rahim pendek setelah menjalani operasi rahim, terutama biopsi kerucut atau prosedur loop electrosurgical excision procedure (LEEP) -— yang menguji sel pra-kanker atau sel abnormal.
  • Berat badan saat hamil yang tidak memenuhi standar. Meskipun hampir setengah dari wanita mengalami kenaikan berat badan terlalu banyak selama kehamilan, 21 persen tidak mendapatkan jumlah yang disarankan, menurut sebuah studi dalam jurnal Obstetrics and Gynecology. Bukti menunjukkan bahwa berat badan pra-kehamilan yang rendah dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur. Temuan mereka termasuk hubungan yang signifikan antara BMI ibu kurang dari 23 dan adanya peningkatan risiko untuk kelahiran prematur. Bukti ini kemudian didukung oleh berbagai penelitian lain, yang paling menonjol berasal dari Preterm Prediction Study, di mana dilaporkan bahwa BMI ibu yang kurang dari 19,8 sangat terkait dengan peningkatan risiko kelahiran prematur ekstrem di usia kehamilan kurang dari 32 minggu, dengan risiko relatif 2,5 persen. Ibu hamil yang obesitas juga berada pada peningkatan risiko komplikasi tertentu selama kehamilan, masa persalinan dan kelahiran bayi, dan periode post-partum. Risiko termasuk peningkatan risiko malformasi bayi, termasuk cacat tabung saraf (spina bifida), distosia bahu, dan trauma lahir lainnya, termasuk endometritis dan infeksi luka operasi caesar, dibandingkan dengan wanita non-obesitas. Obesitas pra-kehamilan memiliki peran dalam faktor risiko kelahiran prematur dengan meningkatkan risiko ketuban pecah dini (PPROM). Risiko kelahiran prematur spontan pada ibu obesitas saat kurang dari 37 minggu kehamilan, tanpa PPROM berkurang: 6,2% dibandingkan 11,2% pada ibu non-obesitas.
  • Stres fisik. Polusi. Enam belas ribu kelahiran prematur telah dikaitkan dengan polusi udara di AS, menurut sebuah studi oleh NYU Langone Medical Center. Daerah-daerah yang paling terpengaruh adalah kabupaten kota. Bayi tabung. Kini lebih banyak wanita dari sebelumnya yang beralih ke program bayi tabung (fertilisasi in-vitro) untuk mencoba hamil. Pada tahun 2014, 375 klinik anggota Society for Assisted Reproductive Technology (SART) dilakukan 190.384 siklus IVF dan prosedur terkait yang mengakibatkan 65.175 bayi disampaikan. Meskipun tidak jelas mengapa, wanita yang hamil melalui IVF tampaknya memiliki peningkatan risiko untuk kelahiran prematur.. Kelelahan fisik di tempat kerja. Dengan meningkatnya jumlah ibu yang terus bekerja hingga usia lanjut kehamilan mereka, stres kerja dihipotesiskan menjadi kontributor penting untuk hasil reproduksi yang merugikan, baik bagi ibu dan bayi. stres fisik seperti kerja shift, waktu berdiri lama, dan mengangkat beban berat telah secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur. Teorinya, memiliki dan mampu mempertahankan pekerjaan, merupakan indikator sendiri dari status sosial ekonomi yang lebih tinggi, yang memiliki efek terbalik pada tingkat kelahiran prematur. Studi terbaru telah menemukan hubungan peningkatan tingkat kelahiran prematur dan pekerjaan, tetapi studi ini lebih banyak dilakukan di negara maju, di mana kelelahan fisik dan kondisi kerja berbahaya bukan menjadi norma masyarakat.
  • Gaya hidup (alkohol, rokok, dan penyalahgunaan zat). Alkohol. Alkohol dapat membahayakan perkembangan janin di dalam rahim. Anda tidak boleh minum sama sekali pada trimester pertama, dan idealnya tidak sama sekali sampai setelah melahirkan. Jika Anda memilih untuk minum, batasi diri untuk satu atau dua unit alkohol sekali atau dua kali seminggu, maksimum. Merokok. Merokok selama kehamilan meningkatkan risiko kelahiran prematur hingga dua kali lipat dan berhubungan dengan ketuban pecah awal dan ntrauterine Growth Restriction (IUGR) -— kondisi ukuran janin lebih kecil dari yang diharapkan untuk jumlah bulan kehamilan. Semakin banyak rokok yang Anda hisap, semakin tinggi risiko Anda mencelakai janin. Yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko Anda adalah untuk berhenti sekarang juga. Narkoba. Jika Anda menggunakan kokain atau heroin saat hamil, Anda akan lebih mungkin untuk memiliki bayi prematur. Aktivitas fisik. Kurangnya kegiatan fisik atau terlibat dalam kebiasaan gaya hidup berbahaya (penggunaan alkohol, rokok, atau narkoba, atau kesemuanya, yang diikuti oleh kurangnya aktivitas fisik) juga meningkatkan risiko Anda melahirkan bayi prematur.
  • Kesehatan mental ibu (depresi dan trauma) Peristiwa traumatik. Paparan peristiwa hidup traumatik telah dikaitkan dengan kelahiran prematur kronis dan ekstrim. Eksposur didefinisikan seperti kematian atau penyakit serius yang dialami kerabat dekat, 6 bulan sebelum konsepsi atau pada trimester pertama atau kedua kehamilan, atau mengalami KDRT atau kekerasan seksual selama Anda hamil. Kurangnya dukungan dari orang-orang sekitar dan bahkan fasilitas kesehatan yang mumpuni juga dapat memicu kelahiran bayi prematur. Depresi. Ibu hamil yang mengidap (terdiagnosis maupun tidak) depresi baru maupun depresi kambuhan memiliki peningkatan risiko 30-40 persen mengalami kelahiran prematur yang terjadi di periode usia kehamilan 32-36 minggi, sementara depresi pada ayah dikaitkan dengan peningkatan risiko hingga 38 persen terhadap kelahirtan bayi prematur di periode 22-31 usia kehamilan, menurut sebuah penelitian terbitan BJOG: An International Journal of Obstetrics and Gynaecology. Penelitian tentang faktor-faktor psikososial dan kelahiran prematur dalam beberapa tahun terakhir telah terakumulasi dengan cepat. Namun demikian, mekanisme yang terlibat dalam asosiasi psikososial kelahiran bayi prematur tidak dipahami dengan baik.
    Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s